Sang Guru dan Pasang Surut: Bagaimana Pendidikan Membentuk Masa Depan Berkelanjutan di Wakatobi
"Anda tidak bisa memisahkan sosok guru dari pribadinya, karena ke mana pun ia pergi, ia akan selalu mengajar."
3 Maret 2026
Pak Sari adalah seorang guru SMP di Wangi-wangi, Kepulauan Wakatobi, salah satu Cagar Biosfer yang ditetapkan UNESCO di Indonesia. Selama lebih dari 18 tahun ia telah mengabdi sebagai guru, namun perannya sebagai pendidik meluas jauh melampaui ruang kelas. Di lingkungannya dan di berbagai komunitas, ia dikenal luas sebagai 'Pak Guru', seseorang yang memiliki insting untuk membimbing dan mendorong pembelajaran di mana pun ia berada.
Sebagai penyanyi lokal yang cukup dikenal, Pak Sari sering menguasai panggung di seluruh kepulauan tersebut, namun penonton tidak pernah meneriakkan nama artisnya. "Orang-orang tidak memanggil nama saya, mereka hanya memanggil 'Pak Guru'," tuturnya dengan senyum hangat. "Gelar itu adalah sumber kebanggaan yang memotivasi saya untuk hidup dengan ceria, menyalurkan semua hobi saya tanpa pernah meninggalkan profesi sejati saya sebagai pendidik."
Tinggal di tepi samudra sepanjang hidupnya, Pak Sari telah menyaksikan perubahan garis pantai. Saat kecil, ia ingat berlari di hamparan pasir yang luas. Kini, sebagian pesisir tersebut telah menyempit akibat erosi, sampah, dan praktik yang tidak berkelanjutan—perubahan yang mustahil untuk diabaikan.
"Saya telah tinggal di sini seumur hidup saya. Anda akan menyadari ketika segala sesuatunya mulai berubah." — Sariono, Guru SMPN 1 Wangi-Wangi Selatan
Sebagai seorang guru, ia memahami bahwa melindungi laut bergantung pada lebih dari sekadar kebijakan konservasi. Di tempat seperti Wakatobi, banyak anak tumbuh besar di tepi laut, namun jarang mempelajari mengapa laut itu penting, bagaimana laut berubah, atau apa peran mereka dalam melindunginya. Tanpa literasi kelautan yang kuat yang tertanam dalam pendidikan, upaya konservasi seringkali sulit bertahan melampaui inisiatif individu.
Dirancang untuk mengatasi kesenjangan ini, proyek Sustaining Our Oceans (SOO)—yang diselenggarakan oleh UNESCO—berfokus pada penguatan literasi kelautan melalui pendidikan. Proyek ini membantu sekolah mengubah interaksi sehari-hari dengan laut menjadi pembelajaran terstruktur yang dapat diwariskan lintas generasi.
Ketika Pak Sari pertama kali mengetahui tentang proyek ini, ia melihatnya sebagai kesempatan untuk memperkuat apa yang sudah ia coba lakukan: membantu siswa memahami bahwa laut adalah bagian dari kehidupan mereka.
"Bagi saya, bagian yang paling berharga adalah kerangka kerja pendidikannya," jelasnya. "UNESCO membantu kami mengorganisir apa yang sudah kami lakukan dan membawanya ke dalam pendidikan formal."
Melalui proyek ini, topik tentang laut dan konservasi diintegrasikan langsung ke dalam kurikulum sekolah. Bagi Pak Sari, ini berarti meninjau kembali rencana pembelajaran yang ada dan mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana laut terhubung dengan apa yang kita ajarkan?
Sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), ia menemukan keterkaitan tersebut dengan mudah. Pelajaran Geografi membuka diskusi tentang ekosistem pesisir dan erosi. Topik tentang mata pencaharian memicu percakapan tentang perikanan, pariwisata, dan limbah. Pelajaran-pelajaran ini kini dikembangkan menjadi program pembelajaran tiga tahun bagi siswa SMP, memastikan bahwa literasi kelautan dibangun secara bertahap dan konsisten dari waktu ke waktu.
"UNESCO tidak mengubah misi kami. Mereka menyediakan sarana dan pengakuan yang membantu memperkuat upaya lokal kami. Ini memvalidasi keyakinan kami bahwa pendidikan adalah arus terkuat untuk perubahan." — Sariono, Guru SMPN 1 Wangi-Wangi Selatan
Dengan konservasi yang kini tertanam di dalam kelas, Pak Sari membawa pelajaran yang sama ke luar sekolah. Apa yang dipelajari siswa akan terbawa pulang ke rumah dan ke masyarakat, secara perlahan membentuk cara orang berbicara dan peduli terhadap laut. Seiring berjalannya waktu, pelajaran tersebut mulai berakar.
"Pekerjaan kami seperti menanam benih saat pasang. Beberapa akan hanyut terbawa air. Namun dengan benih yang cukup dan kondisi yang tepat, hutan bakau dapat tumbuh." — Sariono, Guru SMPN 1 Wangi-Wangi Selatan
Ia terdiam sejenak, seolah membayangkan seperti apa masa depan itu nantinya.
"Dan itulah impian saya untuk Wakatobi—sebuah komunitas di mana kesadaran lingkungan mengalir dalam diri setiap orang, secara alami dan bersama-sama."
Tentang Inisiatif UNESCO "Sustaining Our Ocean": Inisiatif ini merupakan upaya kolaboratif antara kantor regional UNESCO di Jakarta dan Bangkok, dengan dukungan dari Fast Retailing Co., Ltd (induk perusahaan UNIQLO). Program ini bertujuan untuk mempromosikan literasi kelautan melalui pendidikan, dengan kegiatan percontohan yang dilakukan di Jepang, Indonesia, Thailand, dan Vietnam.
Klik dan lihat artikel asli UNESCO, berbahasa Inggris : ARTIKEL ASLI















